Oleh Saudari Lin Ling, Provinsi Shandong
Aku terlahir dalam keluarga miskin di sebuah desa, dan karena keluarga kami tidak punya kekuasaan ataupun status, aku dipandang rendah oleh orang lain sejak masih muda, dan sering dirundung. Setiap kali hal ini terjadi, aku merasa sangat dipermalukan dan hancur hati, dan aku merindukan tibanya hari saat seorang juruselamat akan datang dan mengubah nasibku. Setelah menikah, karena kehidupan yang sulit dan putraku sering sakit, tetanggaku menceritakan kepadaku tentang apa artinya percaya kepada Yesus dan ketika aku tahu bahwa Tuhan Yesus bisa menyelamatkan mereka yang tersiksa oleh penderitaan dan masalah, aku merasa sangat tergerak. Aku merasa akhirnya telah menemukan Juruselamatku, dan sejak saat itu, aku percaya kepada Yesus dan dengan bersemangat menghadiri pertemuan ibadah dan mendengarkan khotbah setiap kali aku bisa. Namun setelah itu, aku menyadari bahwa gereja-gereja bahkan berada dalam keadaan yang sudah sangat parah, dan bahwa kedengkian, perselisihan dan kelicikan dalam diri orang percaya menjadi jauh lebih serius. Tidak ada bedanya dengan masyarakat luas. Aku merasa sangat kecewa, iman yang awalnya kurasakan perlahan memudar dan aku tidak lagi datang ke pertemuan ibadah.
Pada tahun 2000, seorang saudari mengkhotbahkan Injil akhir zaman Tuhan Yang Mahakuasa kepadaku. Saat aku tahu bahwa Tuhan Yang Mahakuasa adalah Tuhan Yesus yang datang kembali, tak ada kata yang mampu menggambarkan sukacita yang kurasakan dalam hatiku. Setiap hari, di setiap saat yang kumiliki, aku membawa firman Tuhan dan membacanya seperti orang kelaparan yang bertemu makanan. Ketulusan dalam firman Tuhan menghangatkan dan menghiburkanku. Aku merasakan kepedulian, belas kasih, dan keselamatan Sang Pencipta bagiku, dan rohku yang haus mendapat penyiraman dan perbekalan. Setelahnya, aku hidup di tengah keluarga besar Gereja Tuhan Yang Mahakuasa, di mana aku menghadiri pertemuan ibadah dan melakukan tugasku bersama saudara-saudariku. Kami semua berusaha untuk mengejar kebenaran di tengah penyiraman dan perbekalan firman Tuhan Yang Mahakuasa, ada kasih di antara saudara-saudariku, dan kami semua saling menolong satu sama lain. Tidak ada kelicikan, penipuan ataupun orang yang dipandang rendah karena miskin atau dikasihi karena kekayaannya, dan tidak ada tekanan atau cemoohan. Di Gereja Tuhan Yang Mahakuasa, aku benar-benar menikmati kebahagiaan dan sukacita yang belum pernah kualami sebelumnya. Namun, karena percaya kepada Tuhan Yang Mahakuasa, aku ditangkap dan disiksa dengan brutal oleh pemerintah Partai Komunis Tiongkok (PKT) dan dipenjara selama setahun. Di dalam sarang Iblis yang gelap, firman Tuhan Yang Mahakuasa-lah yang memberiku iman dan kekuatan dan langkah demi langkah menuntunku untuk mengalahkan Iblis dan bangkit melampaui ikatan maut.
Pada malam tanggal 24 Agustus 2009, aku baru saja tertidur ketika tiba-tiba suara gedoran keras di pintu membuatku terbangun. Sebelum aku sempat bereaksi, 7-8 orang polisi mendobrak pintu dan masuk ke dalam kamar. Begitu masuk, mereka berteriak, "Jangan bergerak! Bangun dan ikut kami!" Aku mendengar suara kamera mengambil fotoku padahal saat itu aku belum sempat berpakaian. Polisi lalu menggeledah rumahku dengan saksama, bahkan selembar kertas kecil pun tidak mereka lewatkan. Dalam waktu singkat rumahku berantakan, seakan telah diporakporandakan oleh perampok. Semua barang berserakan di lantai, dan tidak ada ruang untuk berjalan. Setelah itu, tiga polisi dengan paksa membawaku ke dalam mobil van yang menunggu di luar.
Sesampainya di kantor polisi, mereka memaksaku berdiri menghadap tembok. Seorang petugas menginterogasiku dengan suara keras, "Katakan yang sebenarnya tentang kepercayaanmu kepada Tuhan Yang Mahakuasa! Apa peranmu di gereja? Siapa pemimpinmu? Di mana dia? Katakan semuanya!" Aku menjawab dengan berani, "Aku tidak tahu apa-apa!" Perasaan frustasi mereka dengan segera berubah menjadi kemarahan. Mereka menendangiku sambil berteriak dan mencemoohku dan mengancamku dengan kejam, "Kalau kau mau bicara, kami akan melepaskanmu, tapi kalau tidak, kami akan pukuli kau sampai mati!" Sambil bicara mereka mendorongku ke sebuah kursi besi dengan besi penyangga yang besar, dan mereka memborgolku di sana. Aku panik dan takut, karena aku hanya seorang wanita tak berdaya, tetapi diperlakukan seakan telah melakukan kejahatan besar dan polisi-polisi jahat itu menangkapku dengan mengerahkan kekuatan penuh, dengan ekspresi wajah yang mengerikan, dan pandangan penuh kemarahan. Aku berpikir, "Mereka akan menyiksaku seperti apa? Kalau mereka benar-benar menyiksa atau memukuliku, aku harus berbuat apa?" Aku hanya bisa berdoa dengan panik di dalam hatiku, "Tuhan Yang Mahakuasa! Tingkat pertumbuhanku terlalu kecil dan aku dikelilingi oleh kekuatan Iblis yang jahat, aku menjadi sangat takut. Kumohon Engkau memberiku iman dan kekuatan. Lindungilah aku, supaya aku tidak kalah terhadap Iblis dan setan-setan ini, dan supaya aku bisa berdiri teguh dan bersaksi bagi-Mu!" Saat itulah aku teringat firman Tuhan: "Engkau harus tahu bahwa semua hal di lingkungan sekitarmu berada di sana atas izin-Ku, Aku mengatur semuanya. Lihatlah dengan jelas dan puaskanlah hati-Ku di lingkungan yang telah Kuberikan kepadamu. Jangan takut, Tuhan Semesta Alam Yang Mahakuasa pasti akan bersamamu; Dia menolongmu dan Dia adalah perisaimu" ("Bab 26, Perkataan Kristus pada Awal Mulanya" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"). Ya, semua yang terjadi pada diriku hari itu adalah atas seizin takhta Tuhan, jadi walau aku terjebak dalam sarang setan dan menghadapi segerombolan musuh yang kejam dan jahat, aku tidak berperang sendirian; Tuhan Yang Mahakuasa menyertaiku. Aku bisa bergantung kepada-Nya dan Dia adalah penopangku yang kuat, jadi mengapa aku harus takut? Memikirkan hal ini membuatku tidak lagi takut atau gentar, aku punya kekuatan untuk berperang melawan Iblis sampai akhir dan aku bersumpah akan berdiri teguh dan bersaksi bagi Tuhan walau nyawaku taruhannya!
Setelah itu, polisi mulai berusaha mendapatkan pengakuan dariku dengan cara menyiksa. Pagi di hari pertama, mereka memborgolku, dan ketika mereka membawaku untuk tes darah, mereka menarikku dengan paksa sehingga ujung tajam dari borgol merobek dagingku. Kulit di pergelangan tanganku pun berdarah; rasanya menusuk dan sakit luar biasa. Setelahnya, mereka memborgolku ke sebuah radiator dan karena takut aku kabur, mereka mengencangkan borgolnya sehingga pergelangan tanganku banjir darah. Para polisi jahat itu berulang-ulang menanyaiku, dengan sia-sia berusaha memaksaku memberi tahu mereka informasi mengenai gereja, tetapi karena setiap kali aku menjawab tidak tahu, mereka menjadi marah dan hilang kesabaran. Salah seorang dari mereka dengan marah maju dan menampar mukaku dengan keras. Pandanganku berkunang-kunang, aku hampir pingsan, gigiku hampir copot dan air mata tak tertahankan mengalir dari mataku. Saat seorang polisi melihatku menangis tetapi tetap menolak bicara, ia menyeringai marah, dengan kasar menjambak rambut di bagian dahiku, memutarnya dengan tangannya dan membenturkan bagian kepalaku ke dinding. Pukulan yang keras itu membuatku pening dan telingaku berdengung. Amarahnya belum juga surut. Dia menamparku beberapa kali lagi secara berturut-turut sambil berteriak dengan marah, "Aku akan buat kau menangis! Ini akibatnya kalau tidak mau bicara!" Sambil bicara, dengan kasar dia menginjak kakiku dengan sepatunya. Setelah disiksa dan dipukuli secara bertubi-tubi oleh setan-setan ini, seluruh tubuhkan terasa sakit dan lumpuh.Aku terbaring di lantai, tidak bergerak, seperti sudah akan mati. Melihat kondisiku, polisi-polisi itu mengeluarkan kata-kata makian dan ke luar, sambil membanting pintu. Sore harinya, mereka kembali memukuliku bertubi-tubi seperti sebelumnya, sambil berusaha mengorek informasi tentang gereja dariku. Setelah beberapa kali seperti ini, aku merasa pusing dan mual dan tubuhku sakit sekali, tubuhku sudah remuk redam. Aku merasa aku bisa meninggal sewaktu-waktu. Tetapi polisi-polisi jahat itu tidak sedikit pun mengubah cara mereka menginterogasiku. Tanpa berperikemanusiaan, mereka menggunakan korek api untuk membakar kakiku, sehingga langsung muncul dua bekas lepuhan lebar. Rasanya sakit sekali sehingga aku tidak bisa menahan tangisku. Aku duduk di lantai dalam kesakitan, memandangi para polisi jahat itu. Mereka semua memelototi aku dengan pandangan marah seperti setan dari neraka yang ingin mencabik-cabikku sampai tak berbentuk lagi dan aku pun mulai merasa lemah. Aku mengeluh kepada Tuhan dalam hati, "Tuhan Yang Mahakuasa, kapankah polisi-polisi jahat ini berhenti menyiksaku? Aku benar-benar tidak tahan lagi ..." Aku merasa sangat lemah dan hampir pingsan. Dalam benakku terlintas sebuah pikiran, "Bagaimana jika aku mengatakan sesuatu kepada mereka? Maka, aku tidak perlu menderita ..." Namun, aku dengan segera berpikir, "Jika aku mengatakan sesuatu, maka aku adalah Yudas, yang berarti aku mengkhianati Tuhan." Hatiku bergumul dengan sangat dan pada saat itulah aku teringat firman Tuhan: "Engkau semua harus melakukan hal-hal yang menyenangkan semua orang, yang bermanfaat bagi semua orang, dan yang bermanfaat bagi engkau semua dalam mencapai tempat tujuanmu sendiri, karena jika tidak, yang akan menderita di tengah-tengah malapetaka tak lain tak bukan adalah dirimu sendiri" ("Persiapkanlah Perbuatan Baik yang Cukup untuk Tiba di Tempat Tujuanmu" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"). "Aku tidak lagi akan menunjukkan belas kasihan kepada orang yang tidak menunjukkan kesetiaan sedikit pun kepada-Ku di masa kesukaran, sebab belas kasihan-Ku ada batasnya. Terlebih lagi, Aku tidak menyukai siapa pun yang pernah mengkhianati-Ku, apalagi bergaul dengan orang yang memperdaya sesamanya. Ini adalah watak-Ku, terhadap siapa pun orangnya" ("Persiapkanlah Perbuatan Baik yang Cukup untuk Tiba di Tempat Tujuanmu" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"). Firman Tuhan tiba-tiba menyadarkanku. Aku jadi kaget sendiri dengan pikiranku sebelumnya. Aku merenung, "Penganiayaan Iblis telah menimpaku hari ini, dan bukannya berpikir bagaimana caranya bergantung kepada Tuhan untuk mengalahkan setan-setan ini dan berdiri teguh dan bersaksi bagi-Nya, aku malah memikirkan dagingku sendiri. Bukannya itu berarti aku egois dan hina? Tuhan itu benar dan kudus, dan jika aku mengkhianati saudara-saudariku dan menjadi Yudas yang tercela, bukankah artinya aku menyinggung watak Tuhan dan dengan begitu menghancurkan diriku sendiri? Kehendak Tuhan dengan membiarkan polisi-polisi jahat ini menyiksaku hari ini adalah supaya aku bisa dengan jelas melihat esensi iblis PKT yang dengan liar menentang Tuhan dan menjadi musuh-Nya, sehingga aku mampu mengarahkan hatiku kepada Tuhan, menjaga kesetiaanku kepada-Nya dan berdiri teguh dan bersaksi bagi Tuhan." Setelah sampai pada kesimpulan ini, aku merasa menyesal dan bersalah karena ketidaktaatanku. Aku ingin bertobat kepada Tuhan. Bagaimanapun polisi menyakiti atau menyiksaku, aku akan menolak untuk menyerah pada dagingku. Aku hanya ingin menaati rancangan dan pengaturan Tuhan, menanggung semua penderitaan, berdiri teguh dan bersaksi bagi Tuhan untuk membuktikan kesetiaanku kepada-Nya lewat tindakanku. Bahkan jika harus mengorbankan nyawa, aku tidak akan menjadi Yudas dan mengkhianati Tuhan! Selama aku masih bernapas, aku tidak akan pernah mengaku kalah atau menyerah kepada Iblis! Sore itu, polisi-polisi jahat itu menyuruhku duduk di lantai dengan kaki dijulurkan, dan memaksaku mengangkat lengan, memborgol tangan ke belakangku, dengan posisi di atas. Aku dengan segera merasakan rasa sakit yang sangat di lengan dan pergelangan tangan yang luka. Polisi-polisi yang penuh amarah itu, menyalakan kipas angin sampai kecepatan maksimal dan mengarahkannya ke arahku sehingga udara dingin mengenai tubuhku. Aku sangat kedinginan sehingga terus-menerus gemetaran, dan gigiku bergemeretak. Saat itu aku sedang datang bulan dan bukannya membiarkanku mengganti pembalut, mereka menuntutku "menyelesaikannya" di celanaku. Bahkan, setelah itu, mereka tidak berhenti. Mereka membawa sebatang dahan pohon pakis dan mencambukku dengan dahan itu, setiap pukulan meninggalkan bekas berdarah. Rasanya sakit sekali sehingga aku berusaha mengelak, tetapi melihatku berusaha menghindar, mereka bahkan lebih keras lagi memukuliku, sambil berkata, "Coba saja, apa kau akan bicara sekarang! Aku akan membuatmu lumpuh malam ini!" Kekejaman dan kekasaran polisi-polisi jahat itu mengerikan, tetapi berkat bimbingan dan perlindungan Tuhan, aku tidak tunduk kepada mereka, dan mereka tidak mendapat apa pun dari interogasi itu.
Di tengah interogasi brutal yang terjadi selama beberapa hari itu, seorang petugas dari Brigade Keamanan Nasional terus berpura-pura menjadi "polisi baik", berusaha membuatku mengkhianati gereja dengan taktik lembut, tetapi sia-sia. Ekspresinya manis dan lembut. Dia menuangkan air buatku, membawakanku apel, dan dengan kebaikan palsu, dia berkata, "Sayang sekali kau menderita seperti ini di usia semuda ini. Beri tahu kami apa yang ingin kami ketahui dan semua ini akan berhenti. Kau bisa pulang. Suami dan putramu ingin bertemu denganmu!" Aku awalnya berpikir dia terlihat baik, tetapi dia menjadi semakin kejam dan sinis dibanding siapa pun di antara mereka. Ketika dia melihat bahwa aku tidak mau mengatakan apa pun, ekspresinya berubah menjadi ganas, sepenuhnya menyingkapkan natur aslinya yang jahat, dan dia mulai menyiksaku dengan lebih kejam dan tanpa ampun. Dia membawaku ke dalam aula utama kantor polisi, memaksaku duduk sendirian di pojok selama dua jam di udara yang sangat dingin, dan setelah itu dia kembali, lalu meneriaki aku. Menurutnya aku tidak menjawab cukup keras, jadi dia memaksaku mengulurkan kaki dan dengan jahat menginjak tempurung lututku, lalu dengan kasar mengangkat tanganku yang terborgol ke punggungku. Aku mendengar suara retak dari pergelangan tanganku, dan merasakan rasa sakit yang luar biasa sehingga aku berteriak dan setelahnya aku tidak bisa merasakan apa-apa di pergelangan tanganku. Aku tidak menyangka teriakanku akan membuat setan ini marah. Dia dengan kesal berteriak kepada salah satu anak buahnya, "Ambilkan kain dan sumpalkan ke mulutnya supaya dia tidak berteriak lagi!" Mereka membawa kain yang bau dan kotor, lalu menyumpalkannya ke mulutku, sehingga aku mau muntah. Dia berteriak kepadaku, "Tahan dengan gigimu! Jangan berani jatuhkan kainnya!" Sambil terus mendorong kain itu ke mulutku. Berhadapan dengan binatang buas seperti ini, yang ada di hatiku hanyalah kebencian yang dalam. Aku sangat membenci mereka hingga tidak ada lagi air mata yang tersisa. Berikutnya, petugas jahat ini terus menginterogasiku, dan ketika melihat bahwa aku tidak mau mengatakan apa pun kepadanya, dia sekali lagi menekan kakiku sambil mengangkat tanganku yang terborgol ke udara. Rasanya sakit sekali sehingga aku berkeringat dingin dan tak bisa menahan diriku untuk kembali berteriak. Ketika melihat aku tetap tidak mau bicara, dia berkata kepada bawahannya, "Bawa dia pergi!" Dua polisi jahat mengangkatku dari lantai, tetapi kali ini pinggangku tidak bisa menopangku untuk berdiri tegak. Aku harus berjalan pelan-pelan, terbungkuk-bungkuk, selangkah demi selangkah. Dalam rasa sakit yang amat sangat, kelemahan, perasaan tak berdaya, perasaan tak punya harapan, kembali muncul dalam pikiranku. Aku tidak tahu berapa lama lagi bisa bertahan jadi aku terus berdoa kepada Tuhan dalam hati, berseru memohon pertolongan Tuhan Yang Mahakuasa, sehingga walau harus mati, aku tidak akan mengkhianati-Nya.
Setelah itu, aku melihat bahwa Tuhan Yang Mahakuasa mengerti kelemahanku dan telah mencurahkan belas kasih-Nya dan melindungiku diam-diam sepanjang waktu. Ketika polisi-polisi jahat itu sekali lagi menginterogasiku, mereka mengancam, "Kalau kau tidak mau bicara, kami akan membawamu ke tempat lain dan menaruhmu di kursi listrik. Begitu kami nyalakan, kau akan pingsan, dan meskipun kau tidak mati, kau akan lumpuh!" Mendengar perkataan polisi jahat itu, mau tak mau aku menjadi takut. Aku berpikir aku tidak sanggup menahan perlakuan tidak berperikemanusiaan seperti itu, jadi aku buru-buru berdoa kepada Tuhan dan pada saat itu aku ingat firman Tuhan: "Ketika manusia siap mengorbankan nyawa mereka, semuanya menjadi tidak penting, dan tidak ada orang yang bisa mengalahkannya. Apakah yang lebih penting daripada nyawa?" ("Bab 36, Penafsiran Rahasia Firman Tuhan kepada Seluruh Alam Semesta" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"). Ya, hidupku ada di tangan Tuhan. Tuhan mengendalikan dan berkuasa atasnya dan apakah aku hidup atau mati, itu tidak tergantung pada polisi. Jika aku sungguh-sungguh mempertaruhkan hidupku, aku bisa mengalahkan Iblis. Pada saat itu, aku penuh dengan iman, dan rela mempertaruhkan nyawaku, menyerahkannya ke dalam tangan Tuhan dan menaati rancangan dan pengaturan Tuhan. Aku tidak pernah membayangkan bahwa pada saat itu, aku akan mendengar salah seorang polisi jahat itu berkata bahwa kursi listrik rusak dan listriknya tidak bisa dinyalakan. Pada saat itu aku benar-benar merasakan bahwa Tuhan Yang Mahakuasa bersamaku setiap saat. Bahkan saat aku berada di sarang setan, Tuhan tetap di sisiku. Dia mengizinkan aku mengalami penderitaan, tetapi tidak membiarkan setan-setan jahat itu mengambil nyawaku. Aku bersyukur kepada Tuhan Yang Mahakuasa atas perlindungan-Nya yang ajaib dan untuk semua yang Dia lakukan sehingga aku bisa lolos! Imanku menjadi semakin teguh dan aku rela menanggung penderitaan apa pun untuk tetap berdiri teguh dan bersaksi bagi Tuhan. Polisi-polisi jahat dan gila itu menginterogasiku selama enam hari lima malam, tidak membiarkanku makan, minum atau tidur. Hal ini membuatku melihat dengan jelas bahwa pemerintahan PKT tidak lebih daripada segerombolan penjahat dan preman. Berada dalam genggaman mereka berarti berada dalam genggaman setan-setan yang jahat dan kejam, dan tanpa perlindungan dan pemeliharaan Tuhan Yang Mahakuasa, mereka pasti sudah menyiksaku sampai mati. Walaupun polisi-polisi jahat itu tidak membiarkanku makan, minum, atau tidur selama beberapa hari, dan juga menyiksaku dengan berbagai cara, aku tidak pernah merasa haus, lapar, atau lelah sama sekali. Petugas Brigade Keamanan Nasional mengatakan mereka belum pernah melihat anak muda bisa bertahan selama berhari-hari sepertiku. Aku sangat paham bahwa daya hidup Tuhan Yang Mahakuasa-lah yang mendukung tubuh dagingku, membekaliku dengan kehidupan dan memberiku kekuatan untuk bertahan sampai akhir. Sebagaimana Tuhan Yesus katakan: "Manusia tidak hidup dari roti saja, tetapi dari setiap firman Tuhan" (Matius 4:4). Firman Tuhan Yang Mahakuasa mengatakan: "Tuhan memakai hidup-Nya untuk menyokong segala sesuatu, baik yang hidup maupun yang tak bernyawa, membuat segalanya teratur dengan menggunakan kekuatan dan otoritas-Nya. Ini adalah kebenaran yang tak terpikirkan atau dapat dipahami siapa pun, dan kebenaran yang tak terpahami ini adalah perwujudan dan bukti akan kuasa kehidupan Tuhan yang sesungguhnya" ("Tuhan adalah Sumber Kehidupan Manusia" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia").
Setelah itu, ketika polisi melihat taktik keras tidak berhasil, mereka berusaha menggunakan taktik lembut. Ketua Brigade Keamanan Nasional datang sendiri untuk menginterogasiku. Dia dengan lembut dan manis melepaskan borgolku, menyuruhku duduk, dan berkata dengan suara "lembut", "Kau ini bodoh sekali. Kau bukan orang yang punya otoritas ataupun jabatan di gereja. Mereka mengkhianatimu dan kau berada di sini menentang kami demi mereka. Apakah ini sungguh layak kaulakukan? Selain itu, jika kau percaya Tuhan Yang Mahakuasa, di masa depan putramu akan dibatasi sehingga tidak bisa ikut ujian di universitas, tidak bisa bergabung dengan ketentaraan atau menjadi pegawai negeri. Dan suamimu juga tidak peduli kepadamu. Dia mungkin sudah menemukan orang lain dan meninggalkanmu ... Kenyataannya, kami sudah tahu semuanya tentang situasimu. Bahkan seandainya engkau tidak mengatakan apa pun, kami bisa menangkapmu dengan tuduhan melakukan kejahatan yang sama, karena ini adalah negara PKT. Kami yang menentukan apa yang terjadi. Kami juga menentukan berapa hari kami menahanmu. Bahkan jika kau mati di sini, tidak akan ada apa pun yang terjadi pada kami, jadi sebaiknya kau mengaku! Tiongkok itu berbeda dengan negara-negara lain. Bahkan jika kau tidak mengatakan apa-apa, kami bisa menangkapmu karena tuduhan melakukan kejahatan dan menghukummu." Mendengar caranya yang berbeda untuk membujukku, kali ini dengan kebaikan, hatiku naik turun dan aku merasa kacau. Aku tidak tahu harus berbuat apa, jadi aku berseru dalam hati, "Tuhan Yang Mahakuasa! Engkau tahu tingkat pertumbuhanku terlalu kecil dan aku sangat kekurangan. Aku tidak tahu cara mengalami atau menghadapi situasi seperti ini. Aku mohon bimbingan-Mu." Pada saat itulah, sekali lagi aku menemukan arahan dalam firman Tuhan: "Sepanjang waktu, umat-Ku harus berjaga-jaga terhadap rencana licik Iblis, ... yang akan membuatmu tidak jatuh ke dalam perangkap Iblis, saat itulah penyesalan akan terlambat" ("Bab 3, Firman Tuhan kepada Seluruh Alam Semesta" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"). "Demi Aku, engkau juga tidak boleh menyerah pada kekuatan gelap apa pun. Andalkan hikmat-Ku untuk berjalan dengan cara yang sempurna; jangan biarkan konspirasi Iblis menguasai" ("Bab 10, Perkataan Kristus pada Awal Mulanya" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"). Firman Tuhan menerangi hatiku dan aku menemukan jalan pengamalan. Aku berpikir, "Tentu saja! Ini adalah Iblis yang sedang menggunakan pancingan emosi untuk menyesatkan dan menipuku. Aku harus mengerti tipu muslihatnya, mengalahkannya dengan hikmat, dan tidak membiarkan diriku ditipu. Segala sesuatu dan semua urusan ada di tangan Tuhan. Bahkan jika aku dipenjara lama sekali, aku tidak akan pernah tunduk kepada Iblis dan mengkhianati Tuhan!" Sekarang, aku tahu jauh lebih jelas apa yang harus kulakukan. Diperhadapkan dengan provokasi dan godaannya, aku duduk dalam diam, berdoa, menenangkan hatiku di hadirat Tuhan. Lalu dengan marah aku berkata kepadanya, "Aku akan menuntutmu! Bukan hanya kau sudah menyiksaku supaya mengaku, kau juga menuduhku melakukan kejahatan yang tidak kulakukan!" Sambil tertawa sinis, dia berkata, "Aku tidak memukulimu. Silakan tuntut aku. Ini adalah negara PKT. Tidak ada orang yang akan membelamu." Kebohongannya membuatku sangat membenci pemerintah PKT. Dan setan tua ini benar-benar tidak menghargai hukum ataupun moralitas. Setelah itu, ia membawa setumpuk besar KTP saudara-saudariku dan memintaku mengidentifikasi, bertanya apakah aku mengenal mereka dan dengan sia-sia berharap aku akan mengkhianati mereka. Aku dengan benci menjawab, "Aku tidak kenal siapa pun!" Saat mendengar jawabanku, wajahnya berubah menjadi ungu karena marah. Dia melihat aku benar-benar tidak mau bicara dan dia pun pergi dengan dongkol. Siang itu, mereka membawaku ke rumah penahanan dan dengan galak mengancamku, "Di rumah penahanan kau akan disuruh berjongkok di air dan mengupas bawang putih, dan dalam beberapa hari, tanganmu akan rusak seluruhnya!" Mereka menyeringai dan tertawa dengan sombong sambil bicara dan dalam ekspresi mereka yang seperti binatang, aku melihat wajah Iblis yang kejam dan culas!
Setelah ditahan di rumah penahanan selama sebulan, polisi mengatakan jika aku membayar 20.000 yuan, aku bisa pulang. Aku berkata aku tidak punya uang dan seakan menawar, mereka berkata 10.000 yuan juga tidak apa. Ketika aku berkata bahwa aku tidak punya sesen pun, kekesalan mereka dengan cepat berubah menjadi amarah dan mereka berkata sambil menyeringai, "Kalau kau tidak punya uang, maka artinya pendidikan ulang lewat kerja paksa! Setelah kau selesai, bahkan suamimu tidak menginginkanmu lagi!" Aku dengan mantap menjawab, "Tidak apa, aku tidak peduli!" Jadi, tanpa berpanjang-panjang lagi, mereka menuduhku melakukan kejahatan "mengganggu ketertiban sosial" dan "menghambat penegakan hukum" dan menghukumku satu tahun pendidikan ulang lewat kerja paksa. Ini membuatku bisa melihat dengan lebih jelas lagi bahwa pemerintah PKT adalah setan jahat yang tidak menghargai nyawa manusia sehingga mereka menjadi musuh Tuhan! Di neraka dunia yang diperintah oleh setan-setan ini, di mana Tuhan dipandang sebagai musuh besar, partai yang berkuasa dianggap hukum dan perintah dari surga, dan mereka yang hidup di bawah kekuasaannya tidak punya hak asasi manusia atau kebebasan sama sekali, apalagi kebebasan beragama! Pada saat itu, aku teringat firman Tuhan Yang Mahakuasa, "Mengungkapkan seluruh rasa benci yang membengkak di dadamu, membersihkan kuman-kuman berjamur, memungkinkanmu sekalian meninggalkan kehidupan ini yang tidak ada bedanya dengan kehidupan sapi atau kuda, tidak lagi menjadi budak, tidak lagi diinjak-injak atau disuruh-suruh oleh si naga merah yang sangat besar; engkau semua tidak akan lagi menjadi bagian dari bangsa yang gagal ini, tidak akan lagi menjadi milik naga merah yang sangat besar yang jahat, engkau tidak akan lagi diperbudak olehnya. Sarang setan pasti akan dihancurkan berkeping-keping oleh Tuhan, dan engkau semua akan berdiri di samping Tuhan—engkau semua adalah milik Tuhan, dan bukan milik kerajaan budak ini. Tuhan sudah lama sangat membenci masyarakat gelap ini. Dia menggertakkan gigi-Nya, gemas ingin menginjak-injak si ular tua yang jahat dan kejam ini, sehingga ia tidak akan pernah bangkit lagi dan tidak akan pernah lagi melecehkan manusia; Dia tidak akan mengampuni tindakannya di masa lalu, Dia tidak akan menoleransi kecurangannya terhadap manusia, Dia akan membalaskan semua dosa yang dilakukannya dari zaman ke zaman; Tuhan tidak akan bermurah hati sedikit pun kepada pemimpin utama dari seluruh Iblis[1] ini, Dia akan benar-benar menghancurkannya" ("Pekerjaan dan Jalan Masuk (8)" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"). Pada saat itu, aku dipenuhi dengan kesedihan dan kemarahan, karena aku melihat betapa kejam, licik, culasnya pemerintah Tiongkok. Mereka mengklaim menjalankan slogan seperti "kebebasan beragama, menjaga kepentingan dan hak warga negara yang resmi," tetapi di baliknya, mereka dengan kejam menghancurkan dan mengganggu pekerjaan Tuhan, menahan, memukuli, mendenda, dan membunuh orang-orang yang percaya kepada Tuhan Yang Mahakuasa kapanpun ada kesempatan, dan dengan kejam memaksa orang menolak Tuhan, mengkhianati Tuhan, dan tunduk pada pemerintahan yang jahat. Umat manusia diciptakan oleh Tuhan, dan adalah sesuatu yang alami dan benar untuk percaya kepada Tuhan dan menyembah-Nya, tetapi pemerintah PKT yang reaksioner melawan surga dan alam, berusaha menyingkirkan Tuhan yang sejati. Mereka dengan tanpa berperikemanusiaan menganiaya orang yang percaya kepada Tuhan, menggunakan ancaman, bujukan, tuduhan palsu, pengakuan karena diperas, dan siksaan. Kejahatan mereka mengerikan, buruk, dan penuh kebencian! Kehinaan dan kejahatan mereka sangat kubenci dan aku menjadi lebih bertekad daripada sebelumnya untuk mati daripada mengikuti mereka, dan iman serta tekadku untuk mengikuti Tuhan Yang Mahakuasa dan berjalan di jalan kehidupan yang benar lebih teguh daripada sebelumnya.
Pada bulan Agustus 2010, aku dilepaskan setelah menjalani masa hukumanku. Ketika pulang, aku menyadari bahwa selama aku menjalani hukuman, suamiku juga diawasi polisi selama setahun. Selama setahun itu, di sore hari sering ada polisi berpakaian preman mengawasi tindakannya di belakang rumah kami, mengikutinya, dan mengawasi rumah, sehingga suamiku tidak bisa pulang ke rumah ataupun memiliki tempat yang dirasanya aman. Di siang hari, dia harus bekerja di luar rumah, dan malam harinya dia harus tidur di dekat tumpukan kayu bakar di dekat rumah kami, yang membuatnya tak mungkin bisa tidur nyenyak. Setelah dilepaskan, aku juga mendapati bahwa kaki tangan polisi ini menyebarkan rumor tentang diriku di desa, menghasut orang-orang di desa untuk meninggalkanku dan menyuruh ibu RT untuk terus mengawasiku. Mereka juga menyuruhku menulis surat pernyataan yang mengatakan aku tidak akan meninggalkan kota. Mereka merebut semua kebebasan pribadiku. Setelah tinggal sebulan di rumah, sekali lagi oleh 3-4 orang polisi aku dipaksa pergi ke Brigade Keamanan Nasional untuk interogasi. Mereka sekali lagi mengikatku ke kursi besi dan berusaha memaksaku memberikan informasi tentang Gereja Tuhan Yang Mahakuasa. Ketika anggota keluargaku datang untuk mengeluarkanku, mereka dengan congkak berkata, "Jika kalian mau dia dilepaskan, kalian harus bayar denda 20,000 yuan, atau suruh dia memberi informasi tentang Gereja Tuhan Yang Mahakuasa. Jika tidak, dia akan dihukum lima tahun pendidikan ulang lewat kerja paksa!" Keluargaku tidak punya uang sebanyak itu, jadi mereka harus pulang dengan perasaan frustasi dan tidak berdaya. Aku sangat mengerti bahwa setan-setan ini ingin sekali lagi menggunakan penahanan ini untuk memaksaku mengkhianati Tuhan, jadi dalam hatiku aku segera berseru kepada Tuhan dalam doa, "Tuhan Yang Mahakuasa, Iblis memainkan tipuannya lagi hari ini, dengan sia-sia berusaha memaksaku mengkhianati-Mu, tetapi aku tidak akan membiarkan mereka menipuku." Tidak peduli berapa tahun kerja paksa yang harus kujalani, aku akan tetap menjadi kesaksian untuk memuaskan-Mu." Begitu aku bersumpah di hatiku untuk menjadi kesaksian seberapa pun besarnya penderitaan yang harus kutanggung, aku melihat pekerjaan Tuhan yang ajaib: ketika polisi-polisi jahat itu melihat bahwa mereka tidak akan mendapatkan apa pun dari interogasi, mereka melepaskan aku sore itu. Aku berterima kasih kepada Tuhan Yang Mahakuasa karena telah membuka jalan bagiku dan sekali lagi menyelamatkanku dari cengkeraman Iblis.
Di tengah penganiayaan kejam oleh pemerintah PKT, aku tidak pernah membayangkan akan selamat. Tanpa bimbingan firman Tuhan Yang Mahakuasa, tanpa perlindungan dan pemeliharaan Tuhan Yang Mahakuasa, dan tanpa kekuatan tanpa henti yang diberikan kepadaku oleh Tuhan, hidupku yang lemah sudah akan berakhir dan ditelan oleh setan-setan yang tidak berperikemanusiaan dan aku tidak akan pernah mampu berdiri teguh di hadapan Iblis. Ini membuatku benar-benar memahami otoritas dan kuasa firman Tuhan Yang Mahakuasa, membuatku merasakan transendensi dan kebesaran daya hidup Tuhan Yang Mahakuasa, dan membuatku mengalami kasih Tuhan yang nyata dan penyediaan hidup tanpa pamrih bagiku! Tuhan Yang Mahakuasa-lah yang berulang-kali memimpinku untuk mengalahkan godaan Iblis, bangkit melampaui ketakutanku akan kematian dan keluar dari neraka dunia itu. Aku benar-benar mengalami bahwa hanya kasih Tuhan Yang Mahakuasa bagi umat manusia tulus, bahwa Tuhan Yang Mahakuasa adalah satu-satunya yang bisa kuandalkan, dan bahwa Dia adalah satu-satunya keselamatanku. Aku telah membuat sumpah abadi untuk meninggalkan dan menolak Iblis, mengejar kebenaran, dan selamanya mengikuti Tuhan Yang Mahakuasa dan berjalan di jalan kehidupan yang cerah, dan benar!
Catatan kaki:
1. ''Pemimpin utama dari seluruh Iblis'' merujuk kepada si iblis tua. Frasa ini menunjukkan ketidaksukaan yang amat sangat.


Messenger
0 Komentar